Performa AC Milan di musim 2025-2026 tengah menjadi sorotan tajam, dan kritikus vokal Antonio Cassano tak ragu menunjuk dua figur kunci sebagai penyebab utama kemerosotan tim. Mantan striker tim nasional Italia ini secara gamblang menyatakan bahwa Direktur Olahraga Igli Tare dan pelatih Massimiliano Allegri memegang tanggung jawab penuh atas rentetan hasil buruk yang dialami klub berjuluk Rossoneri tersebut.
Awal musim sempat menjanjikan, di mana Milan digadang-gadang menjadi penantang serius bagi Inter Milan dalam perburuan gelar Serie A. Namun, momentum positif itu perlahan memudar, digantikan oleh grafik penurunan performa yang mencemaskan. Dalam enam pertandingan terakhir, AC Milan hanya mampu mengumpulkan empat poin, sebuah statistik yang jauh dari ekspektasi. Produktivitas gol tim pun menurun drastis, hanya mencetak tiga gol seraya kebobolan sembilan kali.
Situasi krisis ini berimbas langsung pada posisi AC Milan dalam klasemen Serie A, mengancam impian mereka untuk lolos ke Liga Champions musim 2026-2027. Dengan perolehan 57 poin, Milan kini disamai oleh AS Roma dan hanya unggul dua poin dari tim promosi Como 1907. Jika tren negatif ini berlanjut, bukan tidak mungkin Milan akan tergeser dari zona Liga Champions oleh Roma atau bahkan Como dalam dua pertandingan mendatang.
Menanggapi kondisi yang memprihatinkan ini, Cassano secara tegas menyatakan bahwa Igli Tare dan Massimiliano Allegri adalah dua orang yang paling bertanggung jawab. Meskipun banyak pendukung Milan yang melayangkan kritik terhadap CEO Giorgio Furlani, Cassano berargumen bahwa akar permasalahan, baik dari sisi strategi permainan maupun kebijakan transfer, terletak pada pundak pelatih dan direktur olahraga.
Cassano dengan keras mengkritik Allegri, menyebutnya sebagai "bencana" bagi tim. Ia juga menyindir kedatangan Tare yang digambarkan sebagai "penyelamat tim", namun faktanya tidak membawa perubahan positif. Cassano mempertanyakan logika di balik seruan "Furlani keluar" dari para penggemar, seraya menegaskan bahwa Furlani bukanlah pihak yang membuat keputusan terkait skuad atau strategi permainan. Menurut Cassano, skuad dipilih oleh pelatih bersama direktur olahraga, dan Furlani tidak bertanggung jawab atas kegagalan mencetak gol atau ketidakmampuan tim untuk berlari. Ia menggarisbawahi bahwa bencana ini adalah buah dari keputusan Allegri dan Tare, tanpa keraguan.
Menawarkan solusi untuk keluar dari jurang krisis ini, Cassano menyarankan manajemen AC Milan untuk mempertimbangkan kehadiran Antonio Conte sebagai pelatih baru. Ia percaya bahwa Conte adalah sosok yang tepat untuk mengembalikan kejayaan klub. Cassano mengingat bahwa nama Conte sempat masuk dalam daftar incaran Milan pada tahun 2024, namun negosiasi kala itu menemui jalan buntu, yang akhirnya berujung pada penunjukan Paulo Fonseca.
Cassano memuji pencapaian Conte di Napoli pada musim sebelumnya, meskipun ia juga mengakui bahwa Conte memiliki rekam jejak tidak bertahan lama di klub yang sama selama lebih dari dua tahun. Namun, ia meyakini bahwa Conte memiliki potensi besar untuk sukses di Milan. Cassano berujar bahwa Conte akan menjadi pelatih pertama yang mampu meraih empat gelar Scudetto dengan empat klub yang berbeda.
Ia melanjutkan bahwa jika AC Milan serius ingin melakukan perbaikan, Conte adalah pilihan yang sangat ideal. Berbeda dengan Allegri, Cassano menilai Conte lebih fokus pada performa di lapangan dan tidak terlalu ambil pusing dengan isu-isu di luar teknis. Conte, menurut Cassano, membiarkan sepak bola berbicara dan merupakan salah satu dari segelintir pelatih yang memiliki kemampuan untuk memimpin klub mana pun. Cassano menegaskan bahwa hanya ada tiga atau empat pelatih di dunia yang memiliki kualitas selevel Conte.
Pandangan Cassano ini menyoroti ketidakpuasan mendalam terhadap arah klub di bawah kepemimpinan Allegri dan Tare. Ia melihat adanya kesalahan fundamental dalam pengambilan keputusan strategis yang telah membawa AC Milan terperosok ke dalam situasi yang sulit ini. Pergantian pelatih, menurut Cassano, menjadi langkah krusial yang harus diambil oleh manajemen untuk membalikkan keadaan dan mengembalikan Milan ke jalur kejayaan. Pengalaman dan mentalitas juara yang dimiliki Conte dinilai sebagai katalisator yang dibutuhkan tim untuk bangkit dan kembali bersaing di level tertinggi, baik di kancah domestik maupun Eropa.






