Musim kompetisi BRI Super League 2025/2026 akhirnya menemukan titik akhirnya, dengan Persib Bandung keluar sebagai kampiun. Namun, perayaan gelar juara ini diwarnai oleh kontroversi yang cukup signifikan, terutama terkait metode penentuan juara ketika dua tim meraih poin yang sama. Persib berhasil mengungguli Borneo FC di puncak klasemen berkat keunggulan dalam rekor pertemuan atau yang kerap dikenal sebagai head-to-head.
Keputusan ini sontak menimbulkan gelombang perdebatan di kalangan pecinta sepak bola tanah air. Pasalnya, jika dilihat dari aspek selisih gol secara keseluruhan, Borneo FC sebenarnya memiliki catatan yang lebih mentereng. Perbedaan interpretasi dan pandangan mengenai regulasi penentuan juara ini pun tak pelak memancing reaksi dari berbagai pihak yang terkait dengan gelaran liga, mulai dari tim, pelatih, hingga pemain.
Menurut laporan yang beredar, pelatih Borneo FC, Fabio Lefundes, tak bisa menyembunyikan rasa kecewaannya atas sistem yang diterapkan dalam menentukan juara ketika terdapat kesamaan poin. Tim berjuluk Pesut Etam harus rela menempati posisi runner-up meskipun berhasil mengumpulkan total 79 poin, angka yang sama persis dengan yang diraih oleh Persib Bandung. Situasi ini tentu menjadi pukulan telak bagi tim yang telah berjuang keras sepanjang musim.
Persib Bandung, tim kebanggaan Bobotoh, berhak menyandang status juara liga karena unggul dalam statistik rekor pertemuan melawan Borneo FC. Dalam dua kali pertemuan krusial di musim ini, skuad asuhan pelatih yang memimpin Persib meraih kemenangan dengan skor 3-1 pada putaran pertama. Sementara itu, di pertemuan kedua yang digelar di kandang Borneo FC, kedua tim harus puas berbagi angka setelah bermain imbang 1-1. Hasil ini, meskipun terlihat tipis, menjadi penentu krusial dalam perebutan gelar.
Kekecewaan Fabio Lefundes diungkapkan melalui pernyataan yang kemudian diunggah ulang oleh akun Instagram @newsroompersib dan dilansir pada Senin, 25 Mei 2026. Ia mengungkapkan penyesalannya yang mendalam bahwa gelar juara harus lepas hanya karena aturan head-to-head. Ia berargumen bahwa jika dilihat dari data statistik performa tim secara keseluruhan, Borneo FC dinilainya memiliki keunggulan yang jauh signifikan dibandingkan tim-tim lainnya. Pernyataan ini mencerminkan pandangan bahwa regulasi tersebut terkadang dapat mengabaikan pencapaian kumulatif tim sepanjang kompetisi.
Di sisi lain, sebagai salah satu figur penting dalam kancah sepak bola Indonesia, gelandang Tim Nasional Indonesia, Thom Haye, turut memberikan perspektifnya terkait polemik yang muncul akibat aturan kompetisi ini. Thom Haye berpandangan bahwa setiap peserta liga seharusnya sudah memahami dan menerima seluruh regulasi yang berlaku sejak awal dimulainya kompetisi. Oleh karena itu, hasil akhir yang didapat, apapun itu, haruslah diterima secara profesional oleh semua pihak.
Thom Haye bahkan menambahkan sebuah pernyataan yang menarik, "Mungkin aturan itu ada untuk melindungi juara sejati dari hasil seperti pertandingan terakhir." Pernyataan ini bisa diartikan sebagai sindiran halus atau pandangan bahwa regulasi tersebut dirancang untuk memberikan keadilan dan memastikan bahwa tim yang benar-benar layak menjadi juara akan tetap keluar sebagai pemenang, terlepas dari drama di pertandingan terakhir. Ia menyiratkan bahwa mungkin ada pertimbangan strategis di balik aturan head-to-head yang mungkin tidak terlihat secara kasat mata oleh semua orang.
Menilik jalannya pertandingan pamungkas di pekan terakhir, Borneo FC sendiri berhasil menunjukkan performa gemilang dengan mencatatkan kemenangan telak 7-1 atas Malut United. Kemenangan besar ini tentu saja semakin memperkuat argumen bahwa mereka memiliki kapasitas menyerang yang luar biasa. Di sisi lain, Persib Bandung mengamankan poin yang mereka perlukan untuk mengunci gelar juara melalui hasil imbang tanpa gol, 0-0, melawan Persijap Jepara. Pertandingan Persib melawan Persijap mungkin tidak menampilkan banyak gol, namun hasil tersebut sudah cukup untuk mengamankan posisi puncak klasemen.
Perdebatan mengenai aturan head-to-head ini bukanlah hal baru dalam dunia sepak bola, namun kasus ini kembali mengangkat isu tersebut ke permukaan. Banyak yang berpendapat bahwa selisih gol seharusnya menjadi penentu utama ketika poin sama, karena mencerminkan performa tim secara keseluruhan dalam mencetak gol dan menahan kebobolan. Namun, aturan yang berlaku dalam BRI Super League 2025/2026 menetapkan head-to-head sebagai tie-breaker prioritas kedua setelah poin.
Pihak Persib Bandung, meskipun menjadi pihak yang diuntungkan, kemungkinan besar juga menyadari sensitivitas isu ini. Namun, sebagai profesional, mereka tentu akan mengikuti regulasi yang telah ditetapkan oleh otoritas liga. Kemenangan ini merupakan buah dari konsistensi dan perjuangan mereka sepanjang musim, terlepas dari bagaimana gelar juara itu akhirnya ditentukan.
Perhelatan BRI Super League musim ini telah memberikan banyak pelajaran berharga, tidak hanya bagi para pemain dan tim, tetapi juga bagi para pembuat regulasi dan para penggemar sepak bola. Diskusi mengenai sistem penentuan juara yang lebih adil dan transparan akan terus bergulir, dan semoga saja perdebatan ini dapat membawa perbaikan di masa mendatang untuk kompetisi sepak bola Indonesia. Keberhasilan Persib Bandung sebagai juara musim ini akan selalu dikenang, namun polemik aturan head-to-head juga akan menjadi bagian tak terpisahkan dari cerita musim 2025/2026. Pertanyaan mendasar yang muncul adalah, apakah aturan head-to-head sudah cukup mewakili semangat kompetisi yang sesungguhnya, ataukah ada metode lain yang lebih representatif untuk menentukan tim terbaik? Jawaban atas pertanyaan ini akan terus dicari oleh para pemangku kepentingan sepak bola tanah air.






