Lebih dari Sekadar Jam Tangan: Bagaimana Algoritma Smartwatch Membentuk Diri Kita

Dedi Irfan

Perangkat cerdas yang melingkar di pergelangan tangan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan modern, melampaui fungsi sekadar penunjuk waktu. Smartwatch, dengan kemampuannya yang terus berkembang, kini memiliki pengaruh yang lebih dalam terhadap penggunanya, sebuah fenomena yang seringkali luput dari perhatian.

Di Indonesia, tren adopsi perangkat wearable terus menunjukkan grafik positif. Kehadiran berbagai produk smartwatch yang dirancang untuk mendukung gaya hidup sehat seolah menjawab kebutuhan masyarakat akan teknologi yang memfasilitasi kesehatan dan kebugaran. Namun, di balik gemerlap fitur pemantau kesehatan, tersembunyi sebuah kenyataan yang mungkin belum sepenuhnya disadari oleh jutaan pengguna smartwatch berbasis kecerdasan buatan (AI). Perangkat ini bukan hanya alat pasif, melainkan entitas yang secara aktif turut membentuk identitas dan perilaku penggunanya.

Dr. Ressa Uli Patrissia, seorang dosen dan peneliti yang baru saja meraih gelar Doktor Komunikasi, menyoroti peran transformatif smartwatch AI. Menurutnya, jam tangan pintar ini telah bertransformasi menjadi semacam "pendamping pribadi" atau bahkan "penulis bersama" (co-author) dalam perjalanan membentuk identitas diri seseorang. Dalam disertasinya yang berjudul ‘AI-Powered Smartwatches as a Driving Force of Individuation Communication Transformation Across Indonesian Generations’, Ressa mengemukakan sebuah kesimpulan penting: pengguna smartwatch AI lintas generasi di Indonesia sedang mengalami pergeseran menuju individu yang perilakunya semakin dipengaruhi oleh algoritma.

Temuan ini didasarkan pada studi mendalam yang melibatkan wawancara dengan 30 partisipan dari tiga kelompok generasi yang berbeda: Generasi X, Milenial, dan Generasi Z. Pemilihan ketiga generasi ini tidak dilakukan secara acak. Data tahun 2024 menunjukkan bahwa mayoritas pengguna smartwatch di Indonesia berasal dari Generasi Z (51%) dan Milenial (49%), dengan proyeksi pertumbuhan yang terus meningkat. Fenomena ini sangat terasa di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya, di mana smartwatch AI telah menjadi elemen integral dari gaya hidup digital sehari-hari.

Ressa mengakui bahwa teknologi, terutama yang berbasis kecerdasan buatan, menawarkan segudang manfaat bagi manusia. Interaksi antara teknologi dan pengguna, yang terjalin melalui berbagai fitur dan komunikasi, memang memberikan kemudahan dan wawasan baru. Kemampuan smartwatch untuk mengakses data tubuh secara rinci, mulai dari detak jantung, pola tidur, hingga indikasi emosional, memberikan perspektif unik tentang kondisi fisik dan mental.

Namun, di balik potensi besar tersebut, Ressa memberikan peringatan krusial. Ia menekankan pentingnya pengguna untuk tetap memegang kendali atas diri mereka sendiri, alih-alih sepenuhnya menyerahkan kemudi kepada teknologi. "Jangan sampai kita menjadi sepenuhnya bergantung pada teknologi, apalagi sampai diarahkan oleh teknologi," tegas Ressa, mengingatkan akan bahaya hilangnya otonomi diri akibat ketergantungan yang berlebihan.

Apresiasi terhadap riset Ressa datang dari Ketua Program Studi Doktor Ilmu Komunikasi Sekolah Pascasarjana Universitas Sahid, Dr. Prasetya Yoga Santosa. Beliau menilai bahwa temuan ini membuka cakrawala baru dalam pengembangan ilmu komunikasi. Menurut Dr. Yoga, studi komunikasi di era modern tidak lagi cukup hanya berfokus pada interaksi antarmanusia atau relasi manusia dengan media konvensional.

Saat ini, kita sedang memasuki sebuah era baru di mana lanskap komunikasi menjadi jauh lebih kompleks. Hubungan yang terjalin kini melibatkan interaksi yang rumit antara manusia, data, algoritma, kecerdasan buatan, perangkat digital, serta struktur sosial masyarakat yang dinamis. Area inilah yang menjadi tantangan sekaligus medan kajian penting bagi ilmu komunikasi di masa depan, untuk memahami bagaimana entitas-entitas ini saling memengaruhi dan membentuk realitas sosial kita.

Disclaimer

This article was rewritten using AI technology based on information from inet.detik.com without altering the facts of the original article.

Also Read

Tags