Federasi Futsal Indonesia (FFI) tengah merancang sebuah peta jalan ambisius untuk memajukan olahraga futsal di tanah air. Langkah strategis yang digagas adalah membangun sebuah piramida kompetisi yang kokoh, dimulai dari jenjang pendidikan menengah pertama (SMP), berlanjut ke sekolah menengah atas (SMA), hingga puncaknya pada liga profesional bagi klub-klub. Tujuannya jelas: menciptakan jalur pengembangan atlet yang terstruktur dan berkelanjutan.
Sekretaris Jenderal FFI, Budi Setiawan, menguraikan visi besar tersebut saat ditemui di Jakarta. Menurutnya, pembangunan sistem kompetisi yang berjenjang ini merupakan fondasi krusial bagi kemajuan futsal Indonesia di masa depan. Beliau menyatakan keinginan FFI agar para talenta muda yang lahir dari kompetisi tingkat sekolah dapat memiliki jalur yang jelas untuk melanjutkan karier mereka, hingga akhirnya dapat menapaki panggung kompetisi profesional bersama klub-klub elite.
Saat ini, lanskap kompetisi futsal di Indonesia masih memiliki celah yang signifikan pada level akar rumput. FFI memang telah menggelar dua liga resmi yang berjalan secara rutin, yakni Pro Futsal League (PFL) dan PFL 2, yang menjadi wadah bagi klub-klub profesional. Namun, ketiadaan kompetisi yang terorganisir di tingkat pelajar menjadi kendala dalam proses regenerasi dan pembinaan pemain muda.
Menyadari hal ini, FFI tidak hanya berupaya untuk menambah jumlah partisipan di liga profesional, tetapi juga memprioritaskan pembangunan kompetisi berjenjang yang dimulai dari tingkat SMP. Budi Setiawan menjelaskan bahwa model yang diidamkan adalah meniru sistem yang telah terbukti sukses di cabang olahraga lain, seperti bisbol di beberapa negara. Dalam sistem tersebut, pemain-pemain terbaik yang muncul dari kompetisi tingkat bawah akan secara otomatis teridentifikasi dan berpeluang direkrut oleh klub-klub profesional melalui mekanisme bursa transfer yang transparan.
Penerapan sistem serupa untuk futsal di Indonesia diharapkan dapat menciptakan ekosistem yang lebih sehat dan kompetitif. Para pemain futsal yang menunjukkan performa gemilang di tingkat sekolah menengah, bahkan hingga perguruan tinggi, akan memiliki kesempatan emas untuk terintegrasi ke dalam sistem pembinaan klub-klub yang berlaga di PFL. Hal ini tentu akan meningkatkan kualitas pemain secara keseluruhan dan memberikan dorongan signifikan bagi perkembangan futsal nasional.
Lebih lanjut, Budi Setiawan juga menyampaikan harapannya agar jumlah klub yang berpartisipasi di PFL dapat terus bertambah, meskipun ia menekankan pentingnya menjaga keseimbangan agar kompetisi di level profesional tetap terjaga kualitasnya dan tidak mengalami kelebihan kapasitas yang justru dapat merusak persaingan. Dengan lebih banyak klub yang bersaing, level permainan diharapkan akan semakin meningkat dan menarik perhatian lebih banyak pemangku kepentingan.
Pandangan senada juga diungkapkan oleh pelatih tim nasional futsal Indonesia, Hector Souto. Pelatih asal Spanyol ini menegaskan bahwa pembangunan sistem kompetisi yang kuat dan berkelanjutan adalah kunci utama untuk membina talenta futsal di Indonesia. Souto mencontohkan model di negaranya, Spanyol, di mana anak-anak usia dini, bahkan sejak empat hingga enam tahun, sudah aktif bermain dan mengikuti kompetisi secara rutin setiap pekannya. Rutinitas ini penting agar para pemain tidak hanya berlatih, tetapi juga mendapatkan jam terbang yang cukup melalui pertandingan yang konsisten, bukan sekadar turnamen sporadis yang jaraknya berjauhan.
Souto mengakui bahwa Indonesia memiliki modal yang luar biasa dalam hal potensi sumber daya manusia untuk olahraga futsal. Dengan populasi usia di bawah 23 tahun yang mencapai sekitar 110 juta jiwa, peluang untuk menjadikan futsal sebagai salah satu olahraga paling populer di Indonesia sangatlah besar. "Potensi ini luar biasa. Jadi kenapa kita tidak mengembangkannya?" ujarnya retoris. Ia menekankan bahwa pengembangan ini memerlukan pendekatan yang tepat, dukungan dari pemerintah, serta kerja sama yang erat antara federasi, akademi, dan pencarian sponsor di berbagai daerah. Peran serta sponsor dianggap sangat vital untuk memastikan keberlanjutan program-program pembinaan dan kompetisi. Dengan fondasi yang kuat dan sistem yang terstruktur, masa depan futsal Indonesia tampak semakin cerah.
This article was rewritten using AI technology based on information from antaranews.com without altering the facts of the original article.






