Dunia saat ini tengah menghadapi ancaman serius dari fenomena El Nino yang berpotensi sangat kuat. Kekhawatiran membayangi, mampukah planet ini menghindari pengulangan bencana dahsyat yang pernah melanda pada periode Mei 1997 hingga Juni 1998? Kejadian tersebut tercatat sebagai salah satu episode El Nino paling merusak dalam sejarah yang pernah terekam.
Sejak akhir tahun 1996, gelagat anomali mulai terdeteksi. Melalui jaringan pelampung canggih yang tersebar di Samudra Pasifik, para meteorolog mulai mengamati adanya peningkatan suhu permukaan laut. Ini adalah sinyal awal kedatangan El Nino, namun data yang terkumpul saat itu menunjukkan pola yang sangat tidak biasa. Pada Februari 1997, terbentang luas lautan hangat membentang di sepanjang garis khatulistiwa Pasifik, membentang sejauh lebih dari 11.000 kilometer, meliputi area dari pesisir Peru hingga Papua Nugini. Memasuki bulan Mei, massa air hangat ini bergerak lebih jauh ke timur Pasifik, menyebabkan anomali suhu bawah permukaan melonjak hingga lebih dari 6 derajat Celsius di atas rata-rata normal.
Pada akhirnya, seperti yang dilaporkan oleh IFL Science, akumulasi air hangat ini mencapai permukaan, mengakibatkan lonjakan tajam suhu permukaan laut di wilayah timur. Hal ini semakin memperjelas bahwa El Nino yang dahsyat sedang terjadi. Upaya pemantauan El Nino menggunakan pelampung di laut sendiri baru diintensifkan sejak pertengahan tahun 1980-an, terpicu oleh peristiwa El Nino 1982-1983 yang juga menghancurkan dan sebagian besar terjadi tanpa peringatan dini. Dengan pemasangan seluruh jaringan pelampung yang rampung pada pertengahan 1990-an, pemantauan menjadi lebih komprehensif. Berkat kemajuan teknologi inilah, peristiwa 1997-1998 kemudian dikenal sebagai El Nino pertama yang berhasil dipantau secara ilmiah dari awal hingga akhir siklusnya.
Dampak Cuaca Ekstrem Global
Periode 1997-1998 menyaksikan lonjakan suhu global yang signifikan, menjadikannya tahun terpanas yang tercatat hingga tahun 2016. Kenaikan suhu ini memicu peningkatan kelembapan udara di banyak wilayah dunia, yang kemudian berujung pada curah hujan ekstrem. Di kawasan Tanduk Afrika, banjir bandang memicu merebaknya wabah penyakit seperti malaria, demam Lembah Rift, dan kolera. Pola serupa terjadi di Amerika Latin, di mana cuaca ekstrem memperburuk penyebaran penyakit yang ditularkan melalui air dan gigitan nyamuk.
Di sisi lain, limpahan air yang berlebihan akibat El Nino juga berkontribusi pada peningkatan kasus penyakit di beberapa wilayah seperti Papua Nugini, Indonesia, dan Filipina. Sementara itu, di China, Jepang, dan Korea Selatan, musim panas diwarnai oleh serangkaian badai topan yang dahsyat.
Di belahan bumi yang lain, krisis air menjadi masalah utama. Fenomena El Nino tidak menciptakan sumber air baru, melainkan memindahkannya. Akibatnya, sementara beberapa daerah mengalami kebasahan yang berlebihan, daerah lain justru dilanda kekeringan parah. Salah satu wilayah yang paling merasakan dampak kekeringan panjang adalah Lembah Amazon, di mana kebakaran hutan yang berkepanjangan menjadi pemandangan yang mengerikan akibat kondisi kering yang ekstrem. Indonesia, Malaysia, dan Filipina juga mengalami kondisi serupa, di mana kekeringan melanda setelah sebelumnya sempat dilanda banjir di awal tahun. Korea Utara menghadapi wabah kolera parah yang terkait dengan krisis air bersih akibat kekeringan.
Amerika Serikat pun tidak luput dari dampak El Nino. California dan negara-negara bagian di selatan mengalami serangkaian badai dan banjir, sementara wilayah utara justru menikmati salah satu musim dingin terhangat yang pernah tercatat. Para ahli menyebutnya sebagai "tahun tanpa musim dingin" karena cuaca yang terasa hangat dan tidak sesuai dengan musimnya.
Semua kekacauan iklim ini menimbulkan korban jiwa yang tak terhitung. Selama periode tersebut, ribuan orang di seluruh dunia dilaporkan meninggal akibat banjir, kekeringan, kelaparan, kebakaran hutan, panas ekstrem, dan penyakit. Meskipun sulit untuk menghitung angka pasti korban jiwa yang secara langsung disebabkan oleh El Nino 1997-1998, angka yang paling sering dikutip adalah sekitar 23.000 kematian. Lebih parahnya lagi, diperkirakan tingkat kemiskinan meningkat sebesar 15% di beberapa negara yang paling terdampak, sementara kerugian ekonomi global diperkirakan mencapai 5,7 triliun dolar Amerika Serikat.
Masa Depan dan Potensi El Nino 2026
Pertanyaan besar kini adalah, apakah El Nino di masa depan akan menyaingi intensitas musim 1997-1998? Periode El Nino yang diprediksi terjadi pada tahun 2026 menjadi kandidat kuat untuk memecahkan rekor tersebut. Beberapa bulan terakhir, berbagai organisasi meteorologi telah menyatakan kemungkinan besar El Nino akan kembali pada Juli 2026, dengan beberapa pakar memperkirakan bahwa fenomena yang sangat kuat sedang terbentuk.
Pada pertengahan Mei 2026, situasi belum menunjukkan tingkat keparahan yang sama seperti awal 1997, namun proses pembentukannya terus berlanjut. Josh Willis, seorang peneliti dari Jet Propulsion Laboratory NASA, menyatakan bahwa meskipun fenomena tahun ini dimulai sedikit lebih lambat dibandingkan dengan El Nino besar pada tahun 2015 dan 1997, intensitasnya mulai mengejar. Ia menambahkan bahwa dampaknya akan terlihat seiring berjalannya waktu.
This article was rewritten using AI technology based on information from inet.detik.com without altering the facts of the original article.






