Revolusi Digital di Desa Perante: Atasi Stunting dan TB dengan Solusi Sederhana

Dedi Irfan

Perjuangan melawan stunting dan tuberkulosis (TB) di Indonesia masih menjadi tantangan besar. Namun, di Desa Perante, Situbondo, sebuah inovasi sederhana namun efektif telah mengubah cara penanganan kedua masalah kesehatan krusial ini. Berbekal platform digital gratis dan aplikasi pesan instan yang akrab di masyarakat, dua tokoh perempuan desa, Siti Zubaidah (59) dan wakilnya Farhana (29), memelopori pendekatan baru yang terbukti mempercepat proses pendataan dan intervensi.

Farhana, seorang guru di MIM Perante, mengungkapkan keresahan yang mendorong lahirnya inisiatif ini. Ia menyadari bahwa stunting dan TB seringkali terkait erat, membentuk lingkaran setan yang sulit diputus. Anak yang mengalami stunting lebih rentan terjangkit TB, sementara infeksi TB dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan anak secara optimal. "Ketika seorang anak mengalami stunting, penanganannya bukan perkara satu atau dua bulan, melainkan membutuhkan waktu bertahun-tahun, bahkan mungkin dua hingga tiga tahun. Dalam kasus seperti itu, penting untuk juga memeriksa seluruh anggota keluarga apakah ada yang terjangkit TB," jelas Farhana.

Menyadari kompleksitas hubungan antara kedua penyakit ini, Farhana dan Siti Zubaidah berinisiatif untuk menggabungkan penanganan stunting dan TB dalam satu kerangka kerja. Sejak tahun 2023, Desa Perante telah menggalakkan program yang disebut "Kardas Centing Tosis" (Kartu Cerdas Cegah Stunting dan Tuberculosis). Sentuhan digital, sekecil apapun, ternyata memberikan dampak signifikan. Penggunaan Google Form dan grup WhatsApp Kader Posyandu terbukti mampu memperluas jangkauan pendataan dan mempercepat prosesnya.

Pemanfaatan Google Form memungkinkan keluarga di Desa Perante untuk menyampaikan informasi terkait kondisi kesehatan anak dan keluarga mereka dengan lebih mudah dan tanpa rasa sungkan. Hasil skrining awal yang diperoleh melalui formulir daring ini kemudian menjadi dasar yang kuat untuk konsultasi lebih lanjut di Posyandu. Farhana menekankan bahwa selain mengandalkan formulir daring dan edukasi melalui WhatsApp, mereka juga aktif menyelenggarakan lokakarya dan penyuluhan mengenai bahaya stunting dan TB.

"Kami membagikan Google Form ini melalui grup WhatsApp Kader Posyandu. Tujuannya adalah agar informasi dapat tersebar lebih cepat dan luas. Kami juga tidak hanya berhenti di situ, kami juga memberikan edukasi dan pemahaman mendalam mengenai dampak negatif dari stunting dan TB melalui berbagai kegiatan," ujar Farhana.

Inisiatif ini membuahkan hasil yang mengesankan. Dengan hanya memanfaatkan Google Form, hampir seluruh penduduk desa berhasil terdata untuk skrining stunting dan TB. Hingga saat ini, data menunjukkan hampir 200 anak telah didata terkait masalah stunting, sementara sekitar 500 hingga 600 orang telah menjalani skrining TB. Angka ini signifikan mengingat total penduduk Desa Perante sendiri berjumlah hampir 1.000 orang.

Kolaborasi dengan petugas Posyandu dan bidan desa menjadi kunci dalam tindak lanjut. Anak-anak yang teridentifikasi mengalami stunting berhak mendapatkan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) secara gratis selama satu bulan. Meskipun belum ada data kuantitatif pasti mengenai penurunan angka stunting, Farhana berbagi cerita yang menggembirakan dari lapangan. "Beberapa waktu lalu, ketika kami menyalurkan PMT di tahun 2024, saya mendengar kabar bahwa ada beberapa anak yang di tahun 2025 tidak lagi menerima PMT. Ketika saya bertanya kepada kader, jawabannya adalah anak tersebut sudah sehat dan tidak lagi stunting," kisahnya dengan penuh semangat.

Bagi keluarga yang belum terjangkau atau kesulitan mengisi formulir secara daring, tim di Desa Perante tidak tinggal diam. Mereka menerapkan strategi "jemput bola", yaitu mendatangi langsung rumah-rumah warga yang belum terdata. Upaya ini memastikan bahwa tidak ada satupun warga yang terlewatkan dalam proses pendataan dan skrining kesehatan. Pendekatan yang proaktif dan merangkul ini menunjukkan komitmen kuat Desa Perante dalam memberantas stunting dan TB demi generasi yang lebih sehat. Keberhasilan ini menjadi bukti nyata bahwa teknologi sederhana, jika diimplementasikan dengan tepat dan didukung oleh semangat gotong royong, dapat menjadi katalisator perubahan positif yang signifikan di tingkat masyarakat.

Disclaimer

This article was rewritten using AI technology based on information from inet.detik.com without altering the facts of the original article.

Also Read

Tags