Warisan Mematikan Perang Dunia II: Ancaman Bom yang Terkubur Masih Mengintai

Dedi Irfan

Ledakan tragis di Biak Numfor, Papua, yang merenggut lima nyawa dan menyebabkan tiga orang hilang, kembali membuka tabir kelam tentang bahaya laten bom sisa Perang Dunia II yang masih terpendam di berbagai penjuru dunia. Kejadian ini, yang diduga dipicu oleh ledakan amunisi peninggalan era tersebut, menjadi pengingat bahwa konflik masa lalu masih menyimpan potensi ancaman mematikan bagi generasi kini. Kepala Kepolisian Resor Biak Numfor, AKBP Ari Trestiawan, menyatakan bahwa pihaknya masih mendalami dugaan keterkaitan ledakan tersebut dengan bom era Perang Dunia II.

Fenomena ini bukanlah kejadian yang terisolasi. Di berbagai negara yang pernah menjadi medan pertempuran atau menjadi sasaran pengeboman selama Perang Dunia II, seperti Prancis, Belgia, dan Polandia, masih banyak ditemukan sisa-sisa amunisi yang belum meledak. Kota-kota besar di Jerman, seperti Hamburg dan Berlin, yang menjadi target utama serangan udara Sekutu, kini menyimpan "bom waktu" yang terkubur di bawah lapisan tanah. Laporan dari DW menyebutkan bahwa infrastruktur sipil pun tak luput dari sasaran, meninggalkan jejak kehancuran dan potensi bahaya yang meluas hingga ke wilayah seperti Nordrhein-Westfalen dan Brandenburg.

Data yang mengejutkan datang dari upaya pembersihan di Jerman. Pada tahun 2024, tim penjinak bom berhasil mengamankan sejumlah besar material berbahaya, termasuk 90 ranjau, 48.000 granat, 500 bom api, 450 bom seberat lebih dari lima kilogram, dan sekitar 330.000 peluru artileri yang tidak aktif. Angka ini menunjukkan betapa masifnya sisa-sisa perang yang masih tersebar.

Tidak hanya Jerman, negara-negara Eropa lainnya pun menghadapi tantangan serupa. Di Prancis dan Belgia, sisa-sisa amunisi, terutama dari Perang Dunia I, masih banyak ditemukan di daerah seperti Verdun dan Somme. Bahkan, fenomena alam pun dapat memicu penemuan yang mengkhawatirkan. Tiga tahun lalu, kekeringan parah di Lembah Po, Italia, mengungkap sejumlah besar bom yang belum meledak. Di Inggris, pada tahun 2021, sebuah bom udara Jerman seberat 1.000 kilogram yang berhasil dijinakkan secara terkendali di Exeter, meskipun berhasil dicegah dampaknya, tetap menyebabkan kerusakan pada lebih dari 250 bangunan.

Situasi di Polandia dan Republik Ceko juga tidak kalah mengkhawatirkan. Kedua negara ini masih dihantui oleh ribuan bom dari dua perang dunia yang tersebar di seluruh wilayahnya. Pada tahun 2020, sebuah bom seberat lima ton buatan Inggris berhasil dijinakkan di Swinoujscie, Polandia, sebuah operasi yang menegaskan tingginya risiko yang dihadapi.

Dampak mematikan dari sisa perang tidak hanya terbatas di benua Eropa. Di kawasan Asia, negara-negara seperti Vietnam, Laos, dan Gaza juga menghadapi ancaman serius. Di Vietnam, Laos, dan Kamboja, penduduk masih menjadi korban bom cluster buatan Amerika Serikat yang digunakan pada dekade 1960-an dan 1970-an. Perserikatan Bangsa-Bangsa melaporkan bahwa sekitar 80 juta bom yang belum meledak masih tersebar di Laos, sebagai akibat dari lebih dari 500.000 serangan udara rahasia AS antara tahun 1964 hingga 1973.

Di Suriah dan Irak, sisa-sisa perang juga masih menjadi ancaman bagi keselamatan warga. Namun, kedua negara ini menghadapi kendala karena belum memiliki sistem penjinakan bom yang memadai untuk menangani situasi yang kompleks ini. Wilayah Gaza, Palestina, juga dilaporkan oleh PBB sebagai area yang sangat berbahaya akibat bom yang belum meledak, menambah lapisan kesulitan di tengah konflik yang terus berlangsung.

Menyadari potensi bahaya yang luar biasa ini, teknologi penjinakan bom terus dikembangkan. Jika di masa lalu petugas penjinak bom mengandalkan alat sederhana seperti tangan, palu, pahat, dan tang air, kini mereka dibekali dengan teknologi canggih. Salah satu inovasi terbaru adalah penggunaan alat pemotong air bertekanan tinggi yang memungkinkan pemotongan bom dari jarak aman, sehingga dapat menonaktifkan sumbu pemicunya. Para ahli memperkirakan bahwa di Jerman saja, masih tersimpan puluhan ribu bahan peledak yang belum aktif dengan total berat mencapai 100.000 ton.

Meskipun teknologi pendeteksian modern, termasuk penggunaan foto udara digital, telah membantu mengurangi risiko, setiap operasi penjinakan bom tetap merupakan perlombaan melawan waktu. Semakin tua usia bom, semakin tinggi pula risiko korosi pada komponennya dan potensi ledakan yang tidak terkendali. Proses penjinakan bom yang berusia lebih tua juga menjadi lebih sulit akibat perubahan kimia yang terjadi antara selongsong bom dan sumbu pemicunya, sehingga memerlukan keahlian dan ketelitian yang ekstra. Ancaman dari sisa-sisa Perang Dunia II ini akan terus ada sampai semua amunisi berbahaya tersebut berhasil diidentifikasi dan dinonaktifkan.

Disclaimer

This article was rewritten using AI technology based on information from inet.detik.com without altering the facts of the original article.

Also Read

Tags