Produsen baterai kendaraan listrik terkemuka asal Tiongkok, Contemporary Amperex Technology (CATL), baru-baru ini melayangkan peringatan keras kepada para pabrikan mobil listrik (EV) global. Peringatan ini mencuat di tengah derasnya gelombang produksi EV yang kini didominasi oleh pemain-pemain dari Tiongkok, mengindikasikan potensi risiko kegagalan baterai yang perlu diwaspadai.
Robin Zeng, CEO CATL, menyampaikan kekhawatiran tersebut dalam sebuah forum bergengsi, World Power Battery Conference 2026, yang diselenggarakan di Yibin, Provinsi Sichuan, Tiongkok. Pernyataannya, sebagaimana dilaporkan oleh Car News China, menyoroti fenomena peluncuran model-model mobil listrik yang sangat masif. Tercatat, sepanjang tahun 2026, pasar telah dibanjiri oleh sekitar 600 varian mobil listrik baru. Angka ini menggarisbawahi laju inovasi yang sangat cepat, di mana rata-rata tiga mobil listrik baru diperkenalkan ke publik setiap hari selama sembilan bulan terakhir.
Zeng menjelaskan bahwa akselerasi luar biasa dalam pengembangan dan peluncuran produk ini secara tidak terhindarkan memampatkan siklus pengujian dan validasi kualitas baterai. Akibatnya, waktu yang tersedia untuk mengidentifikasi dan mengatasi potensi masalah pada komponen krusial ini menjadi semakin sempit. Kondisi inilah yang kemudian berkontribusi pada munculnya laporan mengenai baterai mobil listrik yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya, atau yang sering disebut sebagai kegagalan baterai.
Meskipun Zeng tidak secara eksplisit menyebutkan nama produsen atau merek yang telah terdampak oleh masalah ini, kekhawatirannya memiliki dasar yang kuat. Banjir produksi EV tidak hanya berpotensi mengancam keselamatan konsumen, tetapi juga dapat menciptakan ketidakseimbangan di pasar otomotif. Data industri yang terungkap belakangan menunjukkan tren penurunan harga transaksi untuk beberapa kendaraan listrik massal yang berasal dari Tiongkok pada semester pertama tahun 2026. Sementara itu, harga sel baterai berbasis lithium besi fosfat (LFP), yang merupakan komponen utama dalam baterai mobil listrik, dilaporkan terus mengalami tren penurunan, bahkan ada yang menyentuh angka di bawah 0,35 yuan per watt-jam (sekitar Rp919 per watt-jam).
Realitas di lapangan pun mulai memperlihatkan beberapa kasus kegagalan baterai pada mobil listrik buatan Tiongkok. Salah satu contoh yang mencuat adalah laporan yang melibatkan sekitar 213.000 unit kendaraan GAC Aion pada Juli 2026. Kendaraan-kendaraan ini dilaporkan mengalami masalah pembengkakan baterai yang parah, serta fenomena hilangnya daya baterai secara terus-menerus. Masalah ini diduga berasal dari sel baterai CALB yang tidak bekerja secara optimal.
Selain itu, perselisihan antara produsen mobil dan pemasok baterai mengenai kualitas produk juga mulai mewarnai industri ini. Sebuah sengketa yang terjadi di akhir tahun 2025 antara Viridi E-Mobility Technology, sebuah anak perusahaan Geely, dengan Sunwoda, sebuah produsen baterai, menjadi bukti nyata. Viridi mengajukan gugatan terhadap Sunwoda karena diduga menerima sel baterai yang cacat kualitas dari pemasok tersebut dalam kurun waktu Juni 2021 hingga Desember 2023.
Menyikapi berbagai insiden tersebut, Zeng menegaskan kembali pentingnya para produsen untuk secara serius mempertimbangkan dampak negatif dari produksi massal EV yang terlalu terburu-buru. Meskipun berbagai pengujian ketat telah diterapkan untuk memastikan kualitas baterai, Zeng menyoroti bahwa metode pengujian yang ada saat ini mungkin belum sepenuhnya akurat. Standar yang berlaku saat ini belum secara spesifik mengatur bagaimana kinerja seluruh paket baterai berinteraksi ketika menghadapi beban benturan pada tingkat kendaraan, termasuk deformasi dinamis, kerusakan pada penutup, atau kegagalan pada sistem pendingin.
Inti dari pernyataan Zeng adalah sebuah pertanyaan fundamental dalam rekayasa dan manufaktur: apakah siklus pengembangan kendaraan yang semakin pendek memberikan waktu yang memadai bagi para insinyur untuk mengidentifikasi cacat baterai secara menyeluruh sebelum produk tersebut memasuki tahap produksi massal? Pertanyaan ini menjadi krusial dalam upaya menjaga kualitas, keandalan, dan keselamatan kendaraan listrik di tengah gempuran inovasi dan permintaan pasar yang terus meningkat.
This article was rewritten using AI technology based on information from antaranews.com without altering the facts of the original article.






