Keheningan panjang yang menyelimuti sepak bola Norwegia selama hampir tiga dekade akhirnya pecah. Momen bersejarah itu kini menjadi kenyataan, berkat kontribusi gemilang dari striker andalan Manchester City, Erling Haaland. Sang bomber muda telah berhasil mengantarkan negaranya, Norwegia, meraih tiket ke putaran final Piala Dunia 2026, mengakhiri penantian yang terasa begitu berat.
Perjalanan yang dilalui oleh tim berjuluk "Løvene" (Singa) ini penuh dengan tantangan dan kegagalan di turnamen-turnamen besar. Terakhir kali Norwegia merasakan atmosfer kompetisi sepak bola tertinggi di dunia adalah pada Piala Dunia Prancis 1998. Sejak saat itu, bayangan sejarah kelam di fase kualifikasi seolah menghantui mentalitas para pemain dari satu generasi ke generasi berikutnya, hingga akhirnya momentum yang ditunggu-tunggu ini tercipta.
Haaland sendiri mengungkapkan betapa beratnya beban yang dirasakan oleh tim dan para pendukung. Ia mengaku bahwa sudah terlalu lama timnya berjuang tanpa hasil yang memuaskan di kualifikasi, dan rasa terbiasa dengan kegagalan mulai merayap. "Sudah sangat lama kami mencoba, dan ketika itu tidak terjadi, Anda menjadi sedikit terbiasa dengan kegagalan," ujar Haaland, mencerminkan perasaan yang mendalam. Ia menambahkan bahwa seumur hidupnya, ia belum pernah menyaksikan Norwegia berlaga di Piala Dunia, sehingga ia merasa bahwa ini adalah saat yang tepat untuk mengukir sejarah.
Kiprah impresif Haaland sepanjang babak kualifikasi menjadi kunci utama keberhasilan ini. Ia secara konsisten menunjukkan ketajamannya dengan mencetak gol dalam delapan pertandingan berturut-turut. Total 16 gol berhasil ia sarangkan, termasuk performa luar biasa dengan lima gol ke gawang Moldova dan dua gol krusial yang memastikan tiket ke Piala Dunia saat bertandang ke markas Italia, di Stadion San Siro.
Bagi Haaland, pencapaian ini memiliki makna yang sangat personal dan mendalam. Ia menegaskan bahwa membawa Norwegia ke Piala Dunia adalah salah satu target terbesarnya sejak lama, dan kini impian itu menjadi kenyataan. Ia merasakan kelegaan luar biasa dan kegembiraan yang dirasakan oleh seluruh masyarakat Norwegia. Perasaan ini, katanya, sungguh luar biasa untuk dialami.
Prestasi gemilang ini tidak hanya memberikan kebanggaan bagi generasi saat ini, tetapi juga membuka peluang bagi generasi muda Norwegia untuk menyaksikan tim nasional mereka bersaing di panggung global. Haaland mengenang masa kecilnya yang selalu harus mendukung negara lain di setiap edisi Piala Dunia karena absennya timnas kesayangannya. "Saya tidak pernah mengalami Piala Dunia sebagai anak kecil di negara ini," ungkapnya, menyadari betapa berartinya momen ini bagi anak-anak Norwegia. Ia berharap mereka bisa merasakan kebahagiaan yang sama seperti dirinya saat melihat Norwegia bertanding di turnamen bergengsi.
Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat juga membangkitkan memori keluarga Haaland, khususnya terkait ayahnya, Alf-Inge Haaland, yang pernah menjadi bek andalan Norwegia di Piala Dunia USA 1994. Menariknya, Erling Haaland dijadwalkan akan berlaga di New York New Jersey Stadium, sebuah lokasi yang menggantikan Giants Stadium, tempat ayahnya dahulu berjuang.
Haaland bercerita bahwa ia dan ayahnya sering membicarakan pengalaman di Piala Dunia 1994. Sang ayah menggambarkan setiap pertandingan bagaikan tiga final yang harus dimenangkan demi kelangsungan hidup tim. Pengalaman itulah yang menurutnya menjelaskan mengapa seringkali tim kuda hitam mampu mengalahkan tim-tim unggulan di Piala Dunia, karena para pemain bermain dengan semangat membela negara yang luar biasa. Ia menjelaskan bahwa Piala Dunia adalah turnamen yang sederhana namun sangat sulit, di mana hanya ada tiga pertandingan di fase grup, dan setiap kesalahan kecil bisa berakibat fatal.
Lebih dari sekadar taktik dan persaingan di lapangan, Piala Dunia memiliki esensi yang lebih luas, yaitu menyatukan masyarakat global. Haaland mengingat percakapannya dengan sang ibu yang selalu merasa gugup sebelum pertandingan, menyaksikan dari tribun. Ia menggambarkan atmosfer Piala Dunia sebagai pertemuan besar, yang berbeda dari pertemuan lainnya dalam sepak bola. Ini adalah momen yang menyatukan orang-orang, tidak hanya di stadion di negara penyelenggara, tetapi juga di seluruh dunia yang menonton di depan televisi.
Kekuatan lini serang Norwegia saat ini tidak lagi hanya bertumpu pada satu bintang. Pelatih Stale Solbakken memiliki skuat yang sangat kompetitif, diperkuat oleh para pemain yang bermain di liga-liga top Eropa. Selain Haaland, timnas Norwegia diperkuat oleh kapten Arsenal, Martin Odegaard, serta talenta muda potensial seperti Oscar Bobb dan Antonio Nusa. Kombinasi kekuatan fisik yang solid dan kreativitas tinggi menjadikan tim asal Skandinavia ini sebagai unit bermain yang atraktif dan berbahaya.
"Kami adalah tim yang sangat tinggi secara fisik, pertama-tama. Kami adalah tim yang kuat yang bekerja sama dengan baik satu sama lain," jelas Haaland mengenai kekuatan timnya. Ia menambahkan bahwa selain fisik, mereka memiliki kualitas yang dibutuhkan untuk menciptakan peluang dan mencetak gol. Haaland yakin Norwegia menarik untuk ditonton karena kualitas individu para pemain dan kreativitas yang mereka miliki, yang penting untuk menjadi tim yang menyenangkan.
Kemenangan tandang atas Italia di San Siro menjadi bukti nyata kematangan mentalitas bertanding tim yang sempat dianggap biasa-biasa saja ini. Performa apik di babak kualifikasi memberikan dorongan kepercayaan diri yang besar, sekaligus menjadi pembuktian atas kemampuan mereka. "Mengalahkan Italia di kandang kami, lalu pergi ke San Siro, tempat tidak banyak tim yang bisa mengalahkan mereka di kualifikasi Piala Dunia, dan kami berhasil menang, itu menunjukkan kepada orang-orang bahwa kami bisa tampil baik di mana pun," kata Haaland. Ia menekankan bahwa kepercayaan diri itu kini sudah ada, dan mereka adalah tim yang masih muda dan terus berkembang.
Kini, fokus Norwegia telah beralih sepenuhnya ke pertandingan pembuka fase grup melawan Irak, yang akan diselenggarakan di Boston Stadium. Haaland mengungkapkan bahwa bermain di Piala Dunia akan terasa seperti mimpi yang menjadi kenyataan, terutama karena ia belum pernah mengalaminya. Ia menantikan perasaan dan pengalaman yang akan ia dapatkan, karena ia belum tahu persis apa yang akan ia hadapi. Ia hanya sangat menantikannya, karena ia yakin itu akan menjadi pengalaman yang luar biasa.






