Borneo FC Samarinda harus menelan pil pahit di akhir musim BRI Super League 2025/26. Meskipun mampu mengakhiri kompetisi dengan kemenangan telak 7-1 atas Malut United FC di laga pamungkas, trofi juara justru menjadi milik Persib Bandung. Tim berjuluk Pesut Etam ini harus puas berada di posisi runner-up karena kalah dalam rekor pertemuan (head-to-head) dengan Maung Bandung, meskipun keduanya mengoleksi poin yang sama, yaitu 79 poin.
Kekecewaan tentu menyelimuti kubu Borneo FC. Di pekan ke-34 yang seharusnya menjadi momen perayaan, mereka justru harus menyaksikan rivalnya mengangkat trofi. Pertandingan di Stadion Segiri Samarinda sendiri berlangsung penuh gairah. Borneo FC tampil superior, mendominasi jalannya laga dan menghujani gawang Malut United FC dengan tujuh gol tanpa balas. Sebuah performa yang menunjukkan kualitas dan ambisi mereka untuk meraih puncak. Namun, hasil imbang yang diraih Persib Bandung di pertandingan terakhir mereka sudah cukup untuk mengunci gelar juara, menjadikan kemenangan besar Borneo FC terasa hampa.
Meski demikian, di tengah rasa kecewa, sang penjaga gawang, Nadeo Argawinata, memilih untuk melihat sisi positif dari perjalanan timnya sepanjang musim. Ia menegaskan rasa bangganya atas performa kolektif yang telah ditunjukkan oleh seluruh penggawa Pesut Etam. Menurutnya, apa yang telah dicapai Borneo FC di musim ini sangatlah luar biasa. Statistik membuktikan dominasi mereka. Borneo FC keluar sebagai tim paling produktif di liga, mencatatkan 74 gol sepanjang musim. Selain itu, mereka juga membukukan jumlah kemenangan terbanyak, sebuah bukti konsistensi yang patut diacungi jempol.
Lebih lanjut, skuad asuhan Pesut Etam ini juga berhasil mencatatkan rekor kemenangan beruntun terpanjang di BRI Super League musim 2025/2026. Rekor-rekor fantastis ini, menurut Nadeo, menunjukkan bahwa Borneo FC telah bermain layaknya tim juara. Ia merasa bahwa secara statistik dan performa, Borneo FC sangat superior dan pantas untuk mendapatkan gelar juara. "Secara statistik, secara rekor yang sudah kita capai, secara kemenangan yang sudah kita capai, siapapun pemain yang ada di dalam Best Eleven dan sebagainya dan sebagainya," ujar Nadeo seperti dikutip dari laman I.League, menekankan pencapaian timnya. Ia menambahkan, "Saya rasa seluruh Indonesia juga tahu kalau Borneo FC di tahun ini sangat superior dan pantas untuk mendapatkan gelar juara."
Nadeo juga menyoroti bahwa kegagalan meraih gelar juara ini akan menjadi motivasi dan pelajaran berharga bagi tim untuk menghadapi kompetisi di musim mendatang. Pengalaman pahit ini diharapkan dapat memupuk mental juang para pemain agar lebih kuat dan siap menghadapi segala rintangan. Fokus kini beralih pada evaluasi dan perbaikan agar di musim depan, Borneo FC dapat kembali bersaing dan kali ini berhasil mengamankan gelar juara yang sudah begitu dekat.
Perlu diingat bahwa dalam sebuah kompetisi sepak bola, hasil akhir tidak selalu ditentukan oleh satu pertandingan. Faktor-faktor seperti rekor pertemuan, selisih gol, hingga konsistensi di sepanjang musim memainkan peran krusial. Dalam kasus Borneo FC, meskipun mereka mampu meraih kemenangan meyakinkan di laga terakhir, keunggulan head-to-head Persib Bandung menjadi penentu. Ini adalah realitas kompetisi yang keras dan tidak memihak.
Kekecewaan Borneo FC ini bukan akhir dari segalanya. Justru, ini adalah sebuah titik balik yang bisa membentuk mereka menjadi tim yang lebih tangguh. Penggemar Borneo FC tentu berharap tim kesayangan mereka dapat bangkit dari keterpurukan ini dan kembali menunjukkan performa gemilang di musim berikutnya. Perjalanan menuju puncak memang penuh liku, dan Borneo FC telah menunjukkan bahwa mereka memiliki potensi besar untuk mencapainya.
Keberhasilan mencetak banyak gol dan memenangkan banyak pertandingan adalah bukti kualitas individu dan kolektif yang dimiliki Borneo FC. Namun, dalam perebutan gelar juara, setiap detail kecil menjadi sangat penting. Kekalahan dalam rekor pertemuan, meskipun hanya satu kali, bisa menjadi pembeda antara podium tertinggi dan posisi kedua. Ini adalah pelajaran berharga bagi seluruh tim, baik pemain, pelatih, maupun manajemen.
Nadeo Argawinata, sebagai salah satu pilar penting di lini pertahanan Borneo FC, telah menunjukkan sikap profesional dan positif dalam menghadapi kekalahan ini. Sikapnya yang optimis dan bangga atas performa tim patut diapresiasi. Ini mencerminkan kedewasaan tim dalam menerima hasil yang ada dan menjadikannya sebagai cambuk untuk terus berkembang. Fokus pada pencapaian individu dalam tim terbaik (Best Eleven) juga menunjukkan bahwa kontribusi setiap pemain diakui.
Kekalahan ini tentu akan menjadi bahan bakar bagi Borneo FC untuk musim depan. Mereka akan datang dengan semangat yang lebih membara, tekad yang lebih kuat, dan strategi yang lebih matang. Penggemar setia Pesut Etam akan terus memberikan dukungan penuh, berharap tim kesayangan mereka dapat menaklukkan semua rintangan dan akhirnya meraih gelar juara BRI Super League yang telah lama dinanti. Perjalanan musim 2025/2026 ini mungkin berakhir dengan kekecewaan, namun ia juga menyimpan potensi kebangkitan yang luar biasa untuk masa depan.






