Makassar, Sulawesi Selatan – Gelombang antusiasme sepak bola melanda Lapangan Telkom Makassar ketika ratusan talenta muda dari berbagai Sekolah Sepak Bola (SSB) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) berkumpul dalam Festival Sepak Bola Rakyat yang diselenggarakan pada Kamis hingga Sabtu, 21-23 Mei. Acara ini tidak hanya menjadi ajang kompetisi sengit, tetapi juga wadah pengembangan komprehensif bagi para pegiat sepak bola usia dini.
Festival ini berhasil menarik partisipasi sebanyak 160 pemain muda yang bersaing dalam turnamen U15, didampingi oleh 32 ofisial pelatih yang membimbing mereka. Semangat kompetisi semakin membara dengan adanya turnamen sepak bola mini 8×8, yang diikuti oleh 360 peserta dan 48 pelatih, menciptakan atmosfer yang dinamis dan penuh semangat sportivitas.
Muhammad Riyan, seorang siswa dari SMA Negeri 6 Makassar, mengungkapkan rasa syukurnya atas kesempatan yang diberikan oleh Festival Sepak Bola Rakyat. Ia merasa turnamen ini menjadi platform berharga untuk mengasah kemampuan bertanding melawan tim-tim sekolah lain, sekaligus memetakan kekuatan lawan. Pengalaman ini, menurutnya, sangat krusial dalam proses pendewasaan sebagai pemain muda.
Lebih dari sekadar ajang adu bakat di lapangan hijau, Festival Sepak Bola Rakyat edisi Makassar juga memperkaya pengetahuan para pelatih melalui seminar kepelatihan yang menghadirkan narasumber mumpuni. Coach Ricky Riskandi, yang pernah menjabat sebagai asisten pelatih Timnas Putri Indonesia, dan Fabio Oliviera, yang memiliki rekam jejak sebagai asisten pelatih timnas Indonesia pada tahun 2012, berbagi ilmu dan pengalaman kepada 48 pelatih yang hadir. Diskusi mendalam mengenai strategi, taktik, dan pembinaan pemain muda menjadi sorotan utama dalam seminar ini.
Inisiatif pengembangan bakat tidak berhenti di situ. Festival ini juga menyelenggarakan coaching clinic yang diikuti oleh 65 peserta dari berbagai SSB di Makassar dan wilayah Sulawesi Selatan. Sesi ini dirancang untuk memberikan pendampingan langsung dan terarah kepada para pelatih dalam mengasah keterampilan teknis dan taktis para pemain muda mereka.
Ratu Tisha, seorang tokoh yang telah lama berkecimpung di dunia sepak bola, menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam pembinaan talenta muda. Ia berpendapat bahwa keberhasilan pengembangan pemain muda membutuhkan sinergi antara federasi, pemerintah, sektor swasta, dan komunitas akar rumput. Lebih dari sekadar peningkatan kemampuan teknis, festival semacam ini juga berperan penting dalam menanamkan nilai-nilai luhur seperti disiplin, sportivitas, dan kerja sama tim, yang merupakan fondasi penting bagi pembentukan karakter atlet.
Festival Sepak Bola Rakyat tidak hanya berfokus pada aspek olahraga, tetapi juga turut mendorong pertumbuhan ekonomi lokal melalui penyelenggaraan bazaar Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Keberadaan bazaar ini memberikan ruang bagi para pelaku UMKM untuk memamerkan dan memasarkan produk mereka, sekaligus berkontribusi pada perputaran ekonomi di area sekitar festival. Suasana festival semakin semarak dengan adanya sesi podcast bertajuk Nobar (Ngobrol Bola Ramean), yang menghadirkan tokoh-tokoh ternama di dunia sepak bola nasional untuk berbagi pandangan dan cerita inspiratif.
Makassar menjadi kota keempat yang berhasil menggelar Festival Sepak Bola Rakyat, setelah sebelumnya sukses dilaksanakan di Jakarta, Labuan Bajo, dan Palu. Perjalanan festival ini akan berlanjut ke Kota Manado, yang dijadwalkan akan menjadi tuan rumah pada 25-27 Juni 2026.
Festival Sepak Bola Rakyat merupakan manifestasi kolaborasi strategis antara PT Garuda Gemah Nusantara (GGN), pemilik brand Cuwitan Digital, dan Coca-Cola Indonesia. Tujuannya adalah untuk menyebarkan euforia dan semangat Piala Dunia 2026 ke seluruh penjuru Indonesia. Pesta sepak bola akbar dunia edisi ke-23 ini rencananya akan diselenggarakan di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, dibuka dengan pertandingan antara tuan rumah Meksiko melawan Afrika Selatan di Stadion Azteca pada 12 Juni pukul 02.00 WIB.
Direktur GGN, Rizky Aidi, menegaskan bahwa festival ini memiliki visi yang lebih luas dari sekadar turnamen biasa. Ia melihatnya sebagai sebuah panggung penting bagi anak-anak daerah untuk menumbuhkan mimpi besar dan meraih prestasi lebih tinggi. "Kami ingin memastikan bahwa bakat-bakat ini tidak hanya terasah kemampuannya di lapangan, tetapi juga memiliki kesempatan untuk berkembang di ranah digital," ujar Rizky. Ia menambahkan bahwa sebelum gelaran di Makassar, festival ini telah berhasil melibatkan total 675 peserta dari 32 Sekolah Sepak Bola (SSB) di Labuan Bajo, Jakarta, dan Palu, menunjukkan jangkauan dan dampak positif yang terus meluas.
This article was rewritten using AI technology based on information from antaranews.com without altering the facts of the original article.






