Strategi Ekspansi Xpeng: Incar Pabrik Eropa, Bangun Kapasitas Produksi Global

Fitra Eri

Jakarta – Ambisi Xpeng untuk memperkuat jejaknya di pasar otomotif global semakin nyata. Perusahaan kendaraan listrik asal Tiongkok ini dilaporkan tengah menjajaki kemungkinan akuisisi fasilitas produksi milik raksasa otomotif Jerman, Volkswagen, di benua Eropa. Langkah strategis ini merupakan respons terhadap lonjakan permintaan kendaraan listrik Xpeng di kancah internasional.

Elvis Cheng, yang menjabat sebagai Direktur Pelaksana Xpeng untuk kawasan Eropa Timur Laut, membenarkan adanya pembicaraan intensif terkait potensi pengambilalihan pabrik tersebut. Pengakuan ini disampaikan Cheng dalam forum bergengsi "Future of the Car" yang diselenggarakan oleh Financial Times. Menurut laporan dari Arena EV pada Sabtu, 16 Mei, Cheng secara gamblang mengonfirmasi bahwa Xpeng secara proaktif menjalin komunikasi dengan Volkswagen guna mengamankan lokasi manufaktur fisik di Eropa.

Namun, Cheng juga menyuarakan sejumlah pertimbangan. Ia mengamati bahwa beberapa fasilitas produksi Volkswagen yang ada saat ini tergolong tua dan mungkin belum sepenuhnya memenuhi standar teknis mutakhir yang diperlukan untuk merakit kendaraan listrik canggih generasi terbaru. Kriteria ketat ini menjadi krusial mengingat kompleksitas teknologi yang disematkan pada mobil listrik modern.

Dalam skenario jika kesepakatan akuisisi dengan Volkswagen tidak mencapai titik temu yang ideal, Xpeng menyatakan kesiapannya untuk membangun fasilitas produksi baru dari nol. Keputusan ini mencerminkan komitmen perusahaan untuk memastikan ketersediaan kapasitas produksi yang memadai demi menopang pertumbuhan penjualan global yang terus meroket.

Peningkatan volume penjualan kendaraan Xpeng di pasar internasional memang patut diacungi jempol. Data terbaru menunjukkan lonjakan ekspor yang signifikan. Pada bulan April 2026, perusahaan berhasil mengekspor sebanyak 6.006 unit kendaraan, sebuah angka yang melampaui bulan sebelumnya dengan peningkatan 28 persen, dan tumbuh 62 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2025. Tren positif ini berlanjut pada kuartal pertama tahun 2026, di mana Xpeng berhasil mendistribusikan 17.563 unit kendaraan listrik ke pasar luar negeri, menandai peningkatan impresif sebesar 55 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Tingginya angka penjualan ini secara otomatis memberikan tekanan pada lini produksi perusahaan, mendorongnya hingga batas maksimal.

Situasi ini sejalan dengan perjanjian produksi yang telah terjalin antara Xpeng dengan pabrik Magna Steyr di Graz, Austria. Fasilitas ini telah menjadi basis produksi untuk SUV listrik G6 dan G9 sejak September 2025. Bahkan, pada Januari 2026, para pekerja di sana telah menyelesaikan tahap uji coba produksi untuk sedan listrik P7+ 2026. Keberadaan fasilitas produksi di Eropa tidak hanya krusial untuk memenuhi permintaan konsumen lokal, tetapi juga menjadi strategi cerdas untuk menghindari pengenaan tarif impor Uni Eropa yang tinggi bagi kendaraan listrik buatan Tiongkok. Tarif tersebut diketahui bisa mencapai angka yang signifikan, bahkan hingga 35,5 persen.

Perlu dicatat bahwa Xpeng bukanlah satu-satunya pemain asal Tiongkok yang menunjukkan minat untuk memanfaatkan aset manufaktur milik produsen Eropa yang mungkin memiliki kapasitas produksi yang belum terpakai. Pesaingnya, BYD, juga dikabarkan tengah menjajaki kesepakatan serupa dengan Stellantis dan sejumlah perusahaan otomotif Eropa lainnya.

BYD sendiri tidak tinggal diam dalam upaya ekspansinya di Eropa. Perusahaan ini tengah membangun pabrik baru di Hongaria yang diperkirakan akan segera beroperasi. Selain itu, BYD juga tengah merealisasikan pembangunan pabrik senilai 1 miliar euro di Turki, yang dijadwalkan mulai beroperasi pada akhir Desember tahun ini. Langkah-langkah ini menegaskan tren global di mana produsen kendaraan listrik Tiongkok secara agresif memperluas basis produksi mereka di luar negeri untuk mengantisipasi pertumbuhan pasar dan mengatasi hambatan tarif.

Disclaimer

This article was rewritten using AI technology based on information from antaranews.com without altering the facts of the original article.

Also Read

Tags