Nike Lakukan PHK Besar-besaran, Ribuan Karyawan Terdampak

Sahrul

Perusahaan apparel olahraga global Nike kembali melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) dalam jumlah besar. Kali ini, sekitar 1.400 karyawan dilaporkan terdampak sebagai bagian dari langkah efisiensi dan restrukturisasi perusahaan di tengah penurunan performa bisnis yang berlangsung dalam beberapa tahun terakhir.

PHK tersebut disebut menyasar berbagai wilayah operasi Nike, termasuk Amerika Utara, Asia, dan Eropa. Sebagian besar posisi yang terkena dampak berasal dari divisi teknologi atau technology operations.

Dilansir dari situs kitaswara.com, langkah ini menjadi bagian dari strategi besar Nike untuk merampingkan struktur perusahaan sekaligus mempercepat transformasi bisnis di era persaingan industri olahraga yang semakin ketat.

Fokus Restrukturisasi Ada di Divisi Teknologi

Chief Operating Officer Nike, Venkatesh Alagirisamy, menjelaskan bahwa perusahaan sedang membangun organisasi yang lebih ramping dan cepat beradaptasi. Dalam memo internal kepada karyawan, ia menyebut perubahan tersebut merupakan kelanjutan dari strategi transformasi perusahaan yang sudah berjalan sebelumnya.

Sebagian besar pengurangan tenaga kerja dilakukan di sektor teknologi karena Nike ingin menyederhanakan sistem operasional dan memusatkan pengembangan teknologi di dua pusat utama, yakni Oregon, Amerika Serikat, dan Nike India Technology Center.

Langkah ini juga disebut berkaitan dengan upaya perusahaan meningkatkan efisiensi supply chain serta mempercepat proses inovasi produk.

Nike Tengah Hadapi Tekanan Bisnis

PHK besar-besaran ini terjadi di tengah kondisi bisnis Nike yang sedang menghadapi tekanan cukup berat. Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan dinilai mulai kehilangan sebagian pangsa pasar akibat persaingan ketat dengan merek olahraga lain seperti On, Hoka, dan Anta.

Laporan Reuters menyebut nilai saham Nike bahkan sudah turun lebih dari 50 persen dalam tiga tahun terakhir. Selain itu, perusahaan juga memperkirakan penjualan kuartalan masih akan melemah, termasuk penurunan cukup tajam di pasar China.

Kondisi tersebut membuat Nike mulai melakukan berbagai langkah penghematan dan reorganisasi internal.

Bukan PHK Pertama di Tahun Ini

Gelombang PHK terbaru ini bukan yang pertama dilakukan Nike. Sebelumnya, pada Januari 2026, perusahaan juga memangkas sekitar 775 pekerjaan di pusat distribusi mereka sebagai bagian dari upaya otomatisasi sistem kerja.

Bahkan pada 2024 lalu, Nike juga sempat mengurangi ribuan posisi karyawan dalam restrukturisasi perusahaan di bawah strategi turnaround bisnis.

CEO Nike, Elliott Hill, sebelumnya menyatakan bahwa perusahaan sedang berupaya mengembalikan fokus brand pada olahraga inti seperti running dan sepak bola sambil mempercepat peluncuran produk baru.

Namun hingga saat ini, pemulihan performa bisnis Nike dinilai belum berjalan sesuai harapan.

Efisiensi Jadi Tren di Banyak Perusahaan Besar

Fenomena PHK massal sebenarnya tidak hanya terjadi di Nike. Sepanjang 2026, banyak perusahaan global mulai melakukan efisiensi tenaga kerja akibat tekanan ekonomi, perubahan strategi bisnis, hingga pemanfaatan teknologi otomatisasi dan AI.

Beberapa perusahaan teknologi dan retail besar seperti Amazon, Meta, hingga Oracle juga dilaporkan melakukan pengurangan jumlah karyawan dalam skala besar.

Analis menilai perusahaan kini mulai lebih fokus membangun organisasi yang efisien dan cepat beradaptasi dibanding melakukan ekspansi besar-besaran seperti beberapa tahun lalu.

Banyak Karyawan Khawatir dengan Kondisi Industri

Gelombang PHK yang terus terjadi di berbagai perusahaan global mulai memunculkan kekhawatiran di kalangan pekerja, terutama di sektor teknologi dan operasional digital.

Sebagian pengamat menilai perusahaan kini lebih selektif dalam perekrutan dan mulai memanfaatkan otomatisasi untuk memangkas biaya operasional jangka panjang. Di sisi lain, banyak pekerja mulai dituntut memiliki kemampuan yang lebih fleksibel agar tetap relevan di tengah perubahan industri.

Meski begitu, Nike menegaskan restrukturisasi ini dilakukan untuk memperkuat bisnis jangka panjang dan meningkatkan daya saing perusahaan di pasar global.

Also Read

Tags

Leave a Comment