Sebuah penelitian terbaru mengungkap fakta menarik tentang hubungan ibu dan anak. Meski menggunakan bahasa yang berbeda, keduanya tetap mampu “terhubung” secara biologis melalui sinkronisasi aktivitas otak.
Dilansir dari situs kitaswara.com, temuan ini memperkuat pandangan bahwa ikatan emosional antara ibu dan anak tidak hanya bergantung pada kata-kata, tetapi juga pada interaksi sosial yang lebih dalam.
Studi dari University of Nottingham
Penelitian ini dilakukan oleh tim ilmuwan dari University of Nottingham dan dipublikasikan dalam jurnal Frontiers in Cognition pada 2026. Fokus utama studi ini adalah fenomena interbrain synchrony, yaitu kondisi ketika aktivitas otak dua individu menjadi selaras saat berinteraksi.
Hasilnya menunjukkan bahwa ibu dan anak tetap memiliki sinkronisasi otak yang kuat, baik saat menggunakan bahasa ibu maupun bahasa kedua.
Metode Penelitian: Mengamati Otak Secara Real-Time
Dalam penelitian ini, ilmuwan melibatkan 15 pasangan ibu dan anak yang hidup dalam lingkungan bilingual. Anak-anak tersebut berusia sekitar 3 hingga 4 tahun.
Mereka diminta melakukan tiga aktivitas berbeda:
- Bermain menggunakan bahasa ibu
- Bermain menggunakan bahasa kedua (Inggris)
- Bermain sendiri tanpa interaksi
Selama eksperimen, aktivitas otak dipantau menggunakan teknologi fNIRS (functional near-infrared spectroscopy), yang mampu mengukur perubahan aliran darah sebagai indikator aktivitas otak.
Hasil: Bahasa Tidak Mengganggu Sinkronisasi
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sinkronisasi otak meningkat signifikan saat ibu dan anak berinteraksi langsung dibanding saat bermain sendiri.
Yang paling menarik, tidak ditemukan perbedaan signifikan antara penggunaan bahasa ibu dan bahasa kedua. Artinya, komunikasi tetap efektif secara biologis meski menggunakan bahasa yang berbeda.
Peneliti bahkan menyebut bahwa sinkronisasi ini “tidak hilang dalam terjemahan,” menegaskan bahwa bahasa bukan faktor utama dalam membangun koneksi otak.
Bagian Otak yang Paling Berperan
Sinkronisasi paling kuat terjadi di area korteks prefrontal, yaitu bagian otak yang berperan dalam pengambilan keputusan, emosi, dan interaksi sosial.
Sementara itu, area lain seperti temporoparietal junction—yang berkaitan dengan empati—juga terlibat, meski tidak sekuat bagian utama tersebut.
Temuan ini menunjukkan bahwa hubungan sosial dan emosional lebih dominan dibandingkan faktor bahasa dalam membangun koneksi antara ibu dan anak.
Implikasi: Bahasa Bukan Penghalang Kedekatan
Penelitian ini membawa kabar baik, terutama bagi keluarga yang hidup dalam lingkungan multibahasa.
Selama ini, sebagian orang tua khawatir bahwa penggunaan bahasa kedua bisa mengurangi kedekatan emosional dengan anak. Namun, hasil studi ini justru menunjukkan sebaliknya.
Selama interaksi tetap hangat dan aktif, hubungan antara ibu dan anak akan tetap kuat—terlepas dari bahasa yang digunakan.
Peran Interaksi Lebih Penting dari Kata-Kata
Penelitian ini juga menegaskan bahwa komunikasi nonverbal seperti kontak mata, ekspresi wajah, dan aktivitas bersama memiliki peran besar dalam menciptakan sinkronisasi otak.
Dengan kata lain, kualitas interaksi jauh lebih penting daripada bahasa itu sendiri.
Kesimpulan
Temuan ini membuktikan bahwa hubungan ibu dan anak memiliki dimensi yang lebih dalam dari sekadar komunikasi verbal. Sinkronisasi otak menjadi bukti bahwa keduanya terhubung secara biologis dan emosional.
Pada akhirnya, bahasa hanyalah alat. Sementara ikatan antara ibu dan anak tetap kuat—bahkan ketika kata-kata yang digunakan berbeda.





