Kebiasaan makan keripik setiap hari ternyata mulai mendapat perhatian serius dari para peneliti kesehatan. Sejumlah studi terbaru menemukan bahwa konsumsi makanan ultra-proses atau ultra-processed foods (UPF) dalam jumlah tinggi berkaitan dengan meningkatnya risiko gangguan fungsi otak, termasuk demensia.
Keripik kentang, camilan kemasan, mi instan, minuman manis, hingga makanan siap saji masuk dalam kategori UPF. Jenis makanan ini biasanya diproduksi melalui proses industri panjang dan mengandung kadar garam, gula, lemak, serta zat tambahan yang tinggi.
Peneliti menilai pola konsumsi UPF yang terus meningkat di berbagai negara menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai karena dampaknya tidak hanya pada berat badan, tetapi juga kesehatan otak.
Penelitian Temukan Hubungan dengan Risiko Demensia
Sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Alzheimer’s & Dementia meneliti lebih dari 2.100 orang dewasa usia 40 hingga 70 tahun yang belum mengalami demensia. Hasilnya menunjukkan bahwa peningkatan konsumsi makanan ultra-proses berkaitan dengan penurunan kemampuan fokus dan meningkatnya skor risiko demensia.
Peneliti menyebut tambahan sekitar 10 persen konsumsi UPF per hari — yang digambarkan setara satu bungkus kecil keripik — dapat memengaruhi perhatian visual dan kecepatan pemrosesan otak.
Barbara Cardoso dari Monash University menjelaskan bahwa efek tersebut bahkan bisa muncul meski seseorang tetap mengonsumsi makanan sehat lainnya. Dengan kata lain, pola makan sehat belum tentu cukup jika konsumsi camilan ultra-proses masih terlalu sering.
Apa yang Membuat Keripik Dianggap Bermasalah?
Keripik dan makanan ultra-proses lain umumnya mengandung kombinasi tinggi garam, lemak jenuh, gula, dan bahan tambahan seperti pengawet maupun perasa buatan.
Kandungan tersebut diduga dapat memicu peradangan dalam tubuh dan memengaruhi kesehatan pembuluh darah, termasuk aliran darah ke otak. Dalam jangka panjang, kondisi itu dipercaya dapat meningkatkan risiko penurunan fungsi kognitif.
Selain itu, konsumsi UPF juga sering dikaitkan dengan obesitas, diabetes tipe 2, tekanan darah tinggi, dan penyakit jantung — faktor-faktor yang selama ini diketahui berkaitan erat dengan risiko demensia.
Sebuah meta-analisis yang melibatkan lebih dari 867 ribu partisipan bahkan menemukan bahwa konsumsi UPF tinggi berkaitan dengan peningkatan risiko demensia hingga 44 persen dibanding konsumsi rendah.
Demensia Tidak Hanya Dipengaruhi Usia
Selama ini banyak orang menganggap demensia hanya dipengaruhi faktor usia. Padahal, gaya hidup sehari-hari juga punya peran besar terhadap kesehatan otak dalam jangka panjang.
Kurang olahraga, tidur tidak teratur, stres berkepanjangan, hingga pola makan buruk disebut dapat mempercepat penurunan fungsi kognitif.
Karena itu, para ahli kini semakin fokus pada upaya pencegahan sejak usia muda, termasuk lewat edukasi soal konsumsi makanan ultra-proses.
Di Indonesia sendiri, perhatian terhadap konsumsi gula, garam, dan lemak mulai meningkat. Pemerintah bahkan mulai menerapkan aturan label gizi “Nutri Level” pada makanan dan minuman tertentu untuk membantu masyarakat memahami kandungan produk yang mereka konsumsi.
Tidak Harus Stop Total, Tapi Perlu Dibatasi
Meski hasil penelitian ini cukup mengkhawatirkan, para ahli menegaskan masyarakat tidak perlu langsung panik atau berhenti total makan keripik.
Yang paling penting adalah menjaga keseimbangan pola makan dan tidak menjadikan makanan ultra-proses sebagai konsumsi utama setiap hari. Sesekali makan camilan masih dianggap aman selama porsinya wajar dan diimbangi pola hidup sehat.
Peneliti menyarankan masyarakat memperbanyak konsumsi makanan alami seperti buah, sayur, ikan, biji-bijian, dan kacang-kacangan untuk membantu menjaga kesehatan otak.
Selain itu, rutin berolahraga, menjaga kualitas tidur, serta tetap aktif secara sosial juga dinilai penting untuk menurunkan risiko gangguan kognitif di masa depan.





