BYD Indonesia baru-baru ini merampungkan sebuah uji coba berkendara yang menarik untuk menguji performa dan efisiensi produk terbarunya, BYD M6 DM. Kendaraan yang mengusung teknologi plug-in-hybrid electric vehicle (PHEV) ini dihadapkan pada perjalanan harian sepanjang kurang lebih 150 kilometer, melintasi berbagai kondisi lalu lintas dan medan yang lazim ditemui di wilayah Jabodetabek, mulai dari kepadatan ibu kota hingga tanjakan dan turunan di kawasan Bogor.
Sesi pengujian ini dirancang untuk memberikan gambaran yang realistis mengenai konsumsi energi kendaraan dalam penggunaan sehari-hari. Sebelum roda mulai berputar, baik tangki bahan bakar maupun baterai kendaraan dipastikan terisi penuh. Guna menjaga integritas hasil pengujian, pihak BYD mengambil langkah penyegelan pada lubang pengisian bahan bakar, memastikan tidak ada penambahan energi fosil selama perjalanan berlangsung.
Demi merefleksikan kebiasaan berkendara pada umumnya, pengemudi tidak dituntut untuk menerapkan teknik eco-driving secara ekstrem. Fasilitas kenyamanan seperti unit pendingin udara (AC) tetap dioperasikan secara optimal, sistem hiburan di dalam kabin aktif, dan kecepatan kendaraan menyesuaikan dinamika lalu lintas, berkisar antara 60 hingga 100 kilometer per jam. Selain itu, kendaraan ini juga mengangkut tiga orang penumpang dengan total bobot penumpang sekitar 240 kilogram, sehingga beban yang dibawa mendekati kondisi pemakaian normal oleh keluarga.
Setelah menempuh jarak hampir 150 kilometer, Multi Information Display (MID) mencatat rata-rata konsumsi energi gabungan sebesar 3,9 liter untuk setiap 100 kilometer. Angka ini setara dengan efisiensi sekitar 25,6 kilometer per liter (kpl). Capaian ini patut diapresiasi mengingat dimensi bodi BYD M6 DM yang tergolong besar sebagai sebuah MPV tujuh penumpang. Meskipun angka ini belum menyamai klaim resmi pabrikan yang menyebutkan potensi efisiensi hingga 65 kpl dalam kondisi ideal, hasil pengujian ini sangat relevan mengingat rute yang dilalui mencakup kemacetan parah khas perkotaan, serta kontur jalan yang bervariasi dengan elevasi yang naik turun.
Salah satu aspek krusial yang diungkap dalam pengujian ini adalah bagaimana sistem penggerak BYD M6 DM memanfaatkan energi baterai secara dominan. Pada awal perjalanan, saat baterai penuh, sistem penggerak mayoritas mengandalkan tenaga listrik. Data menunjukkan bahwa kapasitas baterai baru berkurang hingga menyentuh angka 20% setelah menempuh jarak sekitar 110 kilometer. Hal ini mengindikasikan bahwa sebagian besar jarak tempuh awal dipenuhi oleh operasional motor listrik.
Mesin bensin baru mulai memainkan peran signifikan setelah daya baterai menurun. Fungsinya lebih diarahkan sebagai generator untuk mengisi ulang daya baterai, bukan sebagai penggerak roda utama secara langsung. Hal ini sesuai dengan filosofi teknologi Dual Mode (DM) yang diusung BYD, yang memprioritaskan mode berkendara berbasis listrik.
Perincian konsumsi energi pada 50 kilometer terakhir perjalanan memberikan gambaran yang lebih detail. MID mencatat konsumsi energi listrik sebesar 2,8 kWh per 100 kilometer, yang setara dengan sekitar 35,7 kilometer per kWh. Sementara itu, konsumsi bahan bakar pada segmen ini adalah 3,1 liter per 100 kilometer, atau setara dengan kira-kira 32,2 kilometer per liter.
Menariknya, setelah seluruh rangkaian pengujian selesai, metode pengujian "full to full" diterapkan. Segel tangki bensin dibuka dan pengisian ulang dilakukan. Hasilnya mengejutkan, karena hanya membutuhkan penambahan sekitar 0,36 liter Pertamax (dengan asumsi harga Rp 12.300 per liter) untuk mengisi tangki hingga penuh kembali. Total biaya pengisian bahan bakar untuk 150 kilometer perjalanan tersebut diperkirakan hanya sekitar Rp 4.400. Proses pengisian ini dihentikan saat bensin mulai meluber, menandakan tangki benar-benar terisi penuh.
Secara teknis, BYD M6 DM mengadopsi teknologi Dual Mode (DM) dengan prinsip "electric-first driving". Artinya, motor listrik menjadi garda terdepan dalam menggerakkan roda. Mesin bensin berkapasitas 1.500 cc, yang menghasilkan tenaga 72 kW dan torsi puncak 125 Nm, akan aktif ketika dibutuhkan. Mesin ini tidak bekerja secara konstan, melainkan dioptimalkan pada titik efisiensi tertingginya untuk menghasilkan energi tambahan demi mengisi ulang baterai. Kolaborasi antara mesin bensin ini dengan motor listrik EHS 5.0 yang mampu berputar hingga 15.000 rpm, menjadi kunci efisiensi yang ditawarkan oleh MPV hibrida ini. Pengujian ini secara meyakinkan menunjukkan bahwa BYD M6 DM mampu menyajikan efisiensi yang impresif dalam skenario penggunaan sehari-hari yang realistis, menjadikannya pilihan menarik di segmen MPV yang semakin sadar lingkungan.






